Langsung Ludes, Grebeg Getuk Meriahkan Hari Jadi ke-1120 Kota Magelang

Magelang – Perayaan Hari Jadi Kota Magelang ke-1120 semakin semarak dengan digelarnya tradisi Grebeg Getuk, yang menjadi salah satu tradisi perayaan budaya unggulan Kota Magelang. Acara ini berlangsung meriah dengan melibatkan berbagai elemen masyarakat dan juga menampilkan rangkaian prosesi budaya yang sarat makna. Mulai dari kirab budaya, hingga perebutan gunungan getuk sebagai penutup acara.
Grebeg Getuk sendiri merupakan simbol rasa syukur masyarakat Kota Magelang. Hal tersebut disampaikan oleh panitia sekaligus koordinator lapangan, Andre, yang menjelaskan bahwa seluruh rangkaian acara memiliki makna mendalam.
“Intinya adalah bagaimana masyarakat bersyukur, kemudian memberikan bukti lewat gunungan-gunungan sebagai bentuk terima kasih,” ujar Andre pada Minggu (12/4/2026).
Tradisi Grebeg Getuk ini sendiri telah diselenggarakan sejak tahun 2006 dan terus menjadi bagian penting dalam perayaan hari jadi Kota Magelang. Dalam pelaksanaannya, acara diawali dengan pertunjukan sendratari di Pendopo Mantyasih yang menggambarkan sejarah penyerahan prasasti Mantyasih, kemudian dilanjutkan dengan kirab budaya menuju kawasan pusat kota hingga Alun-Alun Kota Magelang.
Sepanjang perjalanan kirab, ditampilkan pula berbagai pertunjukan seni yang dinilai langsung oleh jajaran pemerintah kota. Setelah itu, acara dilanjutkan dengan pertunjukan kolosal yang melibatkan seniman dan pelajar sebelum akhirnya ditutup dengan prosesi Grebeg Getuk, yakni perebutan gunungan getuk oleh masyarakat.
Pemilihan getuk sebagai simbol utama bukan tanpa alasan. Kota Magelang memang dikenal identik dengan kuliner getuk sebagai salah satu makanan khas daerah.
“Kota Magelang sendiri sudah identik dengan getuknya, jadi ini sebagai penguat identitas,” jelas Andre.
Pada Grebeg Getuk kali ini, terdapat dua gunungan getuk yakni Gunungan Jaler (laki-laki) dan Gunungan Estri (perempuan). Disetiap gunungan, terdapat getuk yang berwarna merah muda, hijau, kuning, dan coklat. Setiap warna, umumnya memiliki cita rasa yang berbeda sesuai bahan tambahannya. Mulai dari rasa khas singkong asli, rasa frambos, wangi pandan, dan juga aroma coklat.
Tekstur getuknya sendiri lembut, padat, tapi lunak saat digigit. Khas getuk Magelang. Perpaduan warna yang bervariasi serta rasa yang khas ini bukan hanya sekadar makanan saja. Akan tetapi merupakan sebuah karya kuliner yang bernilai budaya tinggi.
Tradisi Grebeg Getuk ini sendiri juga memberikan kesan yang baik dari pengunjung. Salah satu pengunjung, Aini, yang baru pertama kali datang, mengaku tertarik karena melihat kekompakan masyarakat dalam acara ini.
“Menurut saya keren banget tadi, warga Magelang itu terlihat solid dan rukun,” ujarnya pada Minggu (12/4/2026).
Ia juga menilai acara ini tidak hanya sekadar hiburan, tetapi juga sarana untuk mengenal budaya dan hasil pertanian daerah. Meski tidak berhasil mendapatkan gunungan getuk karena ramainya pengunjung, ia tetap menikmati suasana acara yang meriah dan penuh semangat.
Secara keseluruhan, Grebeg Getuk tidak hanya menjadi simbol rasa syukur, tetapi juga menjadi ajang pelestarian budaya dan daya tarik wisata yang mampu menghidupkan suasana Kota Magelang. Kedepannya, diharapkan acara ini dapat melibatkan lebih banyak seniman dan peserta agar semakin meriah serta mampu menarik lebih banyak pengunjung dari berbagai daerah.