Jejak Perjalanan Mie Ayam, dari Negeri Tirai Bambu hingga ke Nusantara

Magelang – Aroma kaldu yang mengepul, lenturnya mie kuning, potongan ayam kecap yang manis gurih, dan taburan daun bawang yang wangi. Mie ayam telah menjadi pelipur rasa di dunia kuliner Indonesia. Berasal dari negeri tirai bambu hingga hadir di kedai atau pedagang kaki lima yang menjamur di jalanan Indonesia. Namun, di balik kelezatan yang kita nikmati di pinggir jalan ini, tersimpan evolusi panjang dari ‘Bakmi’ yang eksklusif hingga menjadi hidangan sejuta umat yang tak mengenal kasta.
Mie ayam merupakan salah satu hidangan mie yang paling sering ditemui di Indonesia. Bukan jadi hal sulit untuk mencari gerobak mie ayam di kota manapun kalian berasal. Sesuai dengan namanya, komposisi mie ayam terdiri dari mie yang diberi topping potongan ayam yang sudah dibumbui dengan bumbu kecap, potongan sawi rebus, dan sentuhan terakhir dengan menaburkan potongan daun bawang.
Karena sudah sering melihat banyak pedagang yang menjual di pinggir jalan, banyak yang mengira mie ayam berasal dari Indonesia. Melansir dari Solopos, mie sendiri berasal dari Negeri Tirai Bambu yang tersebar ke penjuru dunia lewat perdagangan.
“Bakmi” adalah cikal bakal dari mie ayam, olahan mie khas China yang diberi minyak serta daging babi. Mengikuti perkembangannya, olahan mie ini dimodifikasi menyesuaikan selera lokal dengan mengganti daging babi dengan ayam.
Di Indonesia sendiri, mie ayam sering dikaitkan dengan Wonogiri, salah satu kabupaten yang ada di Jawa Tengah. Ini menjadikan Wonogiri dijuluki sebagai Kota Mie Ayam. Melansir dari Bake, sejarah mie ayam di Wonogiri berawal dari seorang pemuda Tunggulrejo bernama Ratiman yang merantau ke Jakarta pada tahun 1963. Situasi kampungnya yang tandus membuatnya mencoba peruntungan di ibu kota.
Berkat ilmu yang Ratiman terima saat bekerja di pabrik mie di kawasan Pasar Baru, ia mulai berjualan mie ayam di waktu luang. Ratiman dengan giat terus mendorong gerobak kayunya berkeliling Glodok. Seiring waktu, usaha mie ayamnya terus berkembang. Ratiman lalu mengajak warga dari kampungnya dulu untuk ikut berjualan mie ayam di Jakarta.
Fun Fact warna gerobak mie ayam bisa menunjukan dari mana daerah asal dan cita rasa yang dijualnya. Gerobak dengan warna biru atau coklat berasal dari Wonogiri atau dari daerah Jawa tengah lainnya, terkenal dengan cita rasa kuahnya yang manis pekat dan juga kental.
Gerobak warna hijau identik dengan mie ayam gaya Jawa Barat atau Priangan, menawarkan cita rasa yang lebih ringan, kuahnya yang lebih bening, dan terkadang pakai tauge. Dan untuk gerobak dengan warna kayu natural, biasanya menjual Mie ayam dengan cita rasa yang otentik dan terkesan tradisional.