Magelang Tempo Doeloe Hadirkan Nostalgia Kuliner dan Budaya Lewat 18 Subacara

Magelang — Festival Magelang Tempo Doeloe kembali digelar sebagai salah satu agenda budaya dan pariwisata tahunan yang menampilkan kekayaan sejarah, seni, dan kuliner khas Magelang. Kegiatan ini telah berlangsung sejak tahun 2006 dan telah memasuki penyelenggaraan yang ke-14, dengan total perjalanan event yang kini telah mencapai 20 tahun.
Hal tersebut disampaikan oleh Bagus Priyana dari komunitas Magelang Tempo Doeloe yang menyebut bahwa festival ini tidak hanya berfokus pada kuliner, tetapi juga menghadirkan berbagai kegiatan bernuansa sejarah dan budaya.
“Acara ini sudah berlangsung sejak tahun 2006. Tahun ini genap 20 tahun, tetapi penyelenggaraannya yang ke-14 kali,” ujar Bagus Priyana pada Jumat (5/6/2026).
Menurutnya, konsep utama festival ini adalah menghadirkan pengalaman “kembali ke masa lalu” melalui berbagai aktivitas yang dikemas dalam 18 subacara, mulai dari kuliner tradisional, pasar barang antik, bincang sejarah, pemutaran film layar tancap, hingga jelajah kota tua, sepeda tua, dan angkutan lawas.
“Magelang Tempo Doeloe tidak hanya kuliner, tapi ada 18 subacara seperti kuliner tradisional, barang-barang lama, hingga jelajah sepeda tua dan mobil kuno,” jelas Bagus pada Jumat (5/6/2026).
Menurut Bagus, tujuan utama dari festival ini adalah menumbuhkan rasa cinta masyarakat terhadap Kota Magelang melalui pengenalan sejarah, budaya, dan seni. Dengan begitu, masyarakat diharapkan dapat lebih bangga terhadap kekayaan lokal yang dimiliki daerahnya.
“Prinsipnya bagaimana menumbuhkan rasa cinta terhadap Magelang melalui sejarah, budaya, dan seni. Kami ingin masyarakat bangga dengan kekayaan lokalnya,” tambahnya.
Festival ini juga menghadirkan beragam kuliner tradisional yang dibagi dalam beberapa kategori, mulai dari makanan ringan seperti jajanan pasar, makanan sedang seperti jenang dan bubur, hingga makanan berat seperti sate, kupat tahu, dan senerek. Kehadiran kuliner ini menjadi salah satu daya tarik utama bagi pengunjung untuk bernostalgia dengan cita rasa masa lalu.
Salah satu peserta kuliner, Ella, mengaku telah mengikuti festival ini selama empat tahun berturut-turut. Ia memilih untuk berpartisipasi karena ingin mengenalkan kembali makanan tradisional kepada generasi muda.
“Biar anak-anak zaman sekarang itu mengenal makanan zaman dulu, jangan cuma yang kekinian saja,” ujar Ella, salah satu peserta Magelang Tempoe Doloe pada Jumat (5/6/2026).
Ella juga menambahkan bahwa menu yang ia sajikan merupakan makanan klasik yang masih banyak diminati berdasarkan pengalaman sehari-hari dalam usaha kulinernya.
Sementara itu, dari sisi pengunjung, festival ini menghadirkan pengalaman nostalgia tersendiri. Salah satu pengunjung, Lupi, mengaku tertarik dengan keberadaan minuman limun yang mengingatkannya pada masa sekolah dasar puluhan tahun lalu.
“Minuman limun itu bikin nostalgia, terakhir ketemu waktu masih SD, sudah puluhan tahun lalu,” katanya.
Selain minuman jadul, pengunjung juga menilai variasi kuliner di festival ini cukup beragam, mulai dari makanan ringan hingga makanan berat. Dengan konsep budaya, sejarah, dan kuliner yang dikemas dalam satu festival besar, Magelang Tempo Doeloe terus menjadi ruang nostalgia sekaligus edukasi budaya bagi masyarakat. Panitia berharap kegiatan ini dapat terus berkembang dan menjadi agenda tetap yang semakin menarik minat wisatawan di masa mendatang.