Mengapa Penjual Sate Kebanyakan Orang Madura?

Magelang – Kepulan asap gurih dengan aroma daging bakar dan bumbu kacang yang khas tentu sudah sangat akrab di indra penciuman kita. Sate, hidangan potongan daging yang ditusuk lalu dibakar di atas arang, bukan lagi sekadar makanan biasa, melainkan sudah menjelma menjadi salah satu identitas kuliner kebanggaan Nusantara.
Dari sekian banyak variasi sate yang ada di Indonesia, sate Madura rasanya menjadi jawara yang paling mudah ditemui di berbagai sudut kota, dari pedagang keliling hingga warung makan. Di balik gerobak berbentuk unik dan kipas bambu yang ikonik, tersimpan cerita panjang mengapa banyak sekali masyarakat Madura yang berprofesi sebagai penjual sate di tanah rantau.
Kisah ini ternyata dapat ditarik mundur hingga ke masa lampau. Konon, sejarah sate Madura bermula ketika Arya Panoleh, penguasa Sumenep, berkunjung ke kediaman kakaknya, Batara Katong, yang berkuasa di Ponorogo. Saat itu, sang kakak menyuguhkan hidangan daging berbumbu yang ditusuk lidi. Arya Panoleh awalnya sempat menolak, namun pada akhirnya ia mencicipi sajian tersebut setelah mengetahui bahwa itu adalah makanan para pendekar Ponorogo. Pakaian yang dikenakan Arya saat itu, yakni baju hitam dengan kaus garis-garis khas Madura, pada akhirnya turut menjadi simbol pakaian ikonik para penjual sate Madura yang sering kita lihat hingga saat ini.
Selain faktor sejarah, kondisi geografis Pulau Madura juga memiliki peran besar. Mantan Wakil Bupati Pamekasan sekaligus peneliti, Kadarisman Sastrodiwirjo, pernah menjelaskan bahwa tanah di Madura cenderung gersang dan kurang ideal untuk ditanami sayuran. Sebagai cara bertahan hidup, masyarakat setempat akhirnya lebih banyak memanfaatkan hasil ternak seperti sapi, ayam, dan kambing, serta kekayaan ikan laut. Pengolahan daging ternak menjadi sate pun lambat laun menjadi kebiasaan yang mendarah daging dan bagian tak terpisahkan dari budaya masyarakatnya.
Lantas, mengapa mereka menyebar ke mana-mana? Jawabannya terletak pada jiwa maritim dan keberanian untuk merantau yang diwariskan oleh leluhur mereka. Orang Madura dikenal gigih dan tidak takut mencari penghidupan di luar pulau. Ada sebuah budaya khas yang disebut ‘toron’ atau tradisi pulang kampung.
Ketika seorang perantau sukses berjualan sate di kota besar dan pulang ke desanya saat momen toron, cerita kesuksesannya akan langsung memicu gelombang migrasi. Kerabat dan tetangga akan terinspirasi untuk ikut merantau ke kota yang sama, menciptakan sebuah rantai persaudaraan yang terus berlanjut. Di tanah perantauan, mereka tentu tidak serta-merta sukses dalam semalam. Namun, ikatan kekerabatan dan solidaritas sesama orang Madura menjadi jaring pengaman sosial yang luar biasa. Komunitas ini saling bahu-membahu menopang perantau baru yang sedang merintis usaha dari nol.
Kebersamaan inilah yang membuat para penjual sate Madura mampu bertahan dan menyebar luas, menjadikannya simbol kemampuan manusia untuk bertahan hidup di tempat yang baru. Identitas kuat masyarakat Madura ini juga tergambar jelas dari bentuk gerobak sate mereka yang melengkung menyerupai perahu.
Bentuk ini bukanlah kebetulan semata, melainkan sebuah bentuk penghormatan kepada nenek moyang mereka yang merupakan pelaut andal. Selain itu, gerobak perahu ini juga berfungsi sebagai penanda yang mempererat solidaritas sesama pedagang sate Madura di tanah rantau.
Meski memegang teguh identitas, mereka rupanya merupakan pedagang yang sangat adaptif. Di daerah asalnya, sate Madura sebenarnya lebih banyak menggunakan daging sapi dan memiliki cita rasa yang cenderung gurih dan asin. Namun, ketika mereka berjualan di daerah perantauan seperti Solo atau Yogyakarta, mereka tidak segan berkreasi dan menyesuaikan racikan bumbunya menjadi lebih manis agar pas dengan lidah masyarakat setempat.
Pada akhirnya, fenomena menjamurnya sate Madura di Indonesia bukan hanya soal memadukan potongan daging berbalut bumbu kacang dan kecap manis. Hidangan ini adalah sebuah rekam jejak tentang ketangguhan, adaptasi, dan kuatnya ikatan persaudaraan yang terus hidup dari generasi ke generasi.