Menolak Lupa Lewat Rasa: Kisah Semur Jengkol dan Memori Masyarakat Pinggiran Batavia

Magelang- Menelusuri kuliner nusantara kurang lengkap jika tidak membicarakan jengkol, salah satu hidangan legendaris yang begitu dekat dengan masyarakat betawi. Bagi masyarakat yang bermukim di pinggiran Jakarta, kurang lengkap rasanya jika nasi uduk tidak ditemani dengan kelembutan jengkol yang dipadukan dengan kuah kental hitam manis.
Meski sebagian orang kerap menghindari buah ini karena aromanya yang menusuk hidung dan efek setelah memakannya, pesona semur jengkol justru terletak pada keajaiban rasanya ketika digigit Teksturnya yang empuk menyatu dengan gurihnya rempah-rempah sehingga menciptakan sensasi rasa yang sungguh memanjakan lidah.
Keberadaan hidangan ikonik ini sebenarnya menjadi bukti nyata atas tingginya kreativitas leluhur dalam menyiasati keadaan di masa lampau. Sejarah mencatat bahwa semur jengkol bermula dari ruang dapur dengan perpaduan antara kaum pribumi dan bangsa eropa. Pada mulanya, resep kuah pekat ini diperkenalkan oleh keluarga-keluarga Belanda yang bermukim di Batavia.
Dalam tradisi mereka, hidangan yang dimasak perlahan bersama tomat dan bawang selalu menggunakan daging sapi sebagai bahan utamanya. Tapi karena di masa itu daging sapi merupakan komoditas mewah yang sulit dijangkau oleh pribumi miskin, sehingga kaum pribumi memutar otak mereka memanfaatkan buah jengkol yang tumbuh di sekitar pekarangan mereka sebagai alternatif daging.
Jika kita mengulik dari sisi historisnya, maka akan semakin menarik asal-usul penamaanya. Salah satu literatur menyebutkan bahwa kata “semur” berasal dari salah kaprah pelafalan antara majikan Belanda dan asisten rumah tangga pribumi. Dahulu, saat zaman Belanda para nyonya Belanda sering mengatakan “stormerij” yang merupakan alat pengukus saat menyuruh pelayan mereka memasak.
Namun ditelinga pelayan yang merupakan warga lokal berubah menjadi “smoor” yang kemudian menjadi semur. Catatan resmi mengenai teknik memasak ini bahkan telah terdokumentasikan sejak tahun 1902 dalam buku resep legendaris Groot Nieuw Volledig Oost-Indisch Kookboek.
Di samping sejarahnya yang panjang, rahasia dari kelezatan semur jengkol terletak pada keahlian para koki rumahan dalam menghilangkan aroma dari buah jengkol. Untuk menghilangkan bau tersebut para warga biasanya direndam dalam air bersih satu malam atau direbus menggunakan kapur sirih. Proses seperti ini yang menjadikan tekstur lunak sekaligus mengurangi bau jengkol
Kini semur jengkol bukan lagi menjadi sekadar pelengkap menu sarapan atau menu sehari-hari. masakan ini menjadi sebuah kebudayaan nusantara dalam keragaman kuliner nusantara sehingga menjadi warisan identitas yang harus dirawat dari generasi ke generasi.